Hanya Sekedar Kata-Kata?

December 3rd, 2008 by viresa
Hari Minggu lalu saya bersama sahabat-sahabat saya melewatkan akhir pekan di Kota Hujan Bogor.Tak hanya menikmati lasagna gulung ataupun makaroni panggang yang maknyus itu tapi kami berleha-leha sejenak melepaskan beban hidup ini di Kebun Raya Bogor.Kamipun memilih duduk dibawah pohon yang rindang menghadap kolam penuh teratai dengan latar belakang Istana Bogor.Namun apa yang mengganjal dalam hati dan merusak mata saya? Pemandangan indah dan teduh itu dinodai dengan pemandangan kolam yang kotor,kumuh penuh sampah bekas orang-orang yang berekreasi disana.Tak hanya di kolam tapi sampah bertebaran di rerumputan.Parahnya lagi sampah-sampah itu adalah sampah non organik seperti plastik makanan dan botol air mineral.Kebun Raya yang asri yang berisi koleksi tanaman langka kurang dijaga oleh pengunjungnya.Hutan kota yang harusnya jadi paru-paru warganya malah dibuat kotor dan dirusak.
Bagaimana sungai-sungai di Jakarta tak penuh sampah? Beberapa waktu lalu saya melewati pintu air Manggarai,terlihat timbunan sampah bekas kerukan yang telah menggunung.Saya hanya bisa miris dan tercenung melihatnya.Sedemikian menyedihkan,kalau sudah banjir hanya berteriak saling menyalahkan.Padahal sampah juga salah satu faktor penyumbang terjadinya banjir.Bagaimana taman-taman kota,Kebun Raya bahkan taman di kompleks perumahannya sendiri tak asri lagi? Kesadaran orang-orang di negeri ini akan kebersihan dan menjaga lingkungan masih rendah.Apa beratnya ya membuang sampah pada tempatnya?
Mungkin gambaran ini juga yang terjadi pada lingkungan saya.Bila hujan tiba,sampah dari pemukiman lain mengalir ke perumahan saya.Ini yang selalu membuat pertengkaran antar warga pemukiman.Saluran air jadi penuh sampah akibat warga pemukiman lain membuang sampah seenaknya.Tapi teguran demi teguran dan himbauan seakan jadi angin lalu saja.Sebegitu beratkah kita menjaga kebersihan itu?
Saya sempat membaca email yang dikirimkan seorang teman beberapa waktu lalu perihal empati yang ditulis oleh Andy F Noya yang semakin membuka mata hati saya.Bagaimana sebenarnya sikap dan hal-hal kecil itu yang kadang kita lupakan sesungguhnya membantu dan mempunyai arti besar.Bagaimana kita membuang sampah pada tempatnya selain menjaga kebersihan juga meringankan beban petugas kebersihan.Semisal kita makan di jajanan kaki lima,terkadang saya melihat banyak sampah sisa-sisa seperti tulang ayam atau cangkang tiram yang bertebaran di tanah.Padahal kalau mau menyisihkan waktu tak banyak,sisa-sisa makanan itu bisa kita buang sendiri di tempat sampah.Selain meringankan tugas pelayan juga menjaga kebersihan.Namun itu banyak tak terpikirkan oleh kita.Kadang sikap acuh warga perkotaan ini yang memperparah keadaan.Bahkan rumah berhimpitan dan tinggal di bantaran sungai yang makin membuat sungai tercemar.
Seperti juga halnya tersenyum-suatu hal mudah tapi begitu berat untuk dilakukan.Membuat garis 1 cm ke kiri dan kanan bibirpun jadi barang langka.Padahal senyum tulus adalah ibadah.Seperti kebersihan adalah sebagian dari iman.Lingkungan bersih dan sehat akan menghindarkan kita dari berbagai macam penyakit.Akankah hanya sekedar kata-kata? Seperti kata Iwan Fals “lestarikan alam hanya celoteh belaka…”
November Rain…Depok,23Nov’08

Pemuda Kemana Arahmu…

December 3rd, 2008 by viresa
10 windu Sumpah Pemuda telah berlalu dan banyak orang-orang resah dengan para pemuda era globalisasi.Pemuda yang jadi penerus bangsa banyak menuai kecaman,biang kerusuhan dan tindak anarkis serta biang penebar video mesum di internet.Apakah wajah pemuda Indonesia sedemikian menyedihkan?
Menurut penuturan Inke Maris di Majalah Tempo,Indonesia berada di peringkat ke-7 dalam mengakses hal-hal yang berbau pornografi.Dan kegelisahan juga tertutur di Harian Kompas yang membahas tentang pornografi yang makin merebak di kalangan remaja serta kebrutalan para anak bangsa yang makin parah.
Dari sekian yang buruk pasti ada yang baik.Bak iklan sebuah partai besar…Bung Karno pernah berkata,”Berikan 10 pemuda,maka saya akan menggemparkan dunia.” Walaupun banyak pelajar yang tak tahu isi Sumpah Pemuda ataupun tak mengerti makna bagaimana pemuda Indonesia di jaman itu berjuang sampai terwujudnya Indonesia merdeka serta bersatu padu dalam Bhinneka Tunggal Ika.Disaat para remaja dan pemuda masa kini terbuai dengan bahasa gaul dan bahasa asingnya.Bahkan dari Harian Kompas terpampang tulisan “Jurusan Bahasa Indonesia di perguruan tinggi akan dibubarkan” karena kurangnya peminat mahasiswa mendalami Bahasa Indonesia.Sungguh ironis,bahasa yang dulu diperjuangkan para pemuda di tahun 1928 untuk mempersatukan bangsa ini malah kalah bersaing dengan berbagai bahasa asing yang lebih trendi.Padahal kalau melihat antusiasme orang Barat sana akan budaya dan bahasa kita tentulah kita akan kecewa akan nasib generasi penerus kita selanjutnya.Asal tahu saja,bahasa Indonesia telah diajarkan di 45 negara.Apakah nanti kita akan merasa ‘asing’ dengan bahasa dan sastra kita sendiri??
Bahkan iklan di sebuah televisi menyambut Hari Sumpah Pemuda memakai bahasa gaul…”Secara Sumpah  Pemuda…bla bla….kita ngemeng bahasa indonesya lhoh…”Apakah iklan ini menyorot keporak porandaan tutur bahasa atau ingin menunjukkan eksistensi diri para pemuda kini dengan bahasa mereka?
Bahkan tak hanya bahasa yang mempererat bangsa terancam makin tak populer tapi juga perpecahan bangsa ini dari berbagai hal yang terasa makin terbelah.Mulai dari perkelahian antar etnis,agama dan bangsa ini yang terbagi-bagi dalam puluhan partai yang juga memicu pergolakan diantara mereka.Andai kata orang muda kita menyikapi dengan arif tentulah kericuhan pilkada di berbagai daerah tak akan terjadi ( tercatat ada sekitar 100 pilkada diadakan setiap tahunnya di Indonesia ).Andai pula mereka berkaca pada pemilu di Amerika yang menjadikan Obama sebagai pemenang disambut tanpa ada konflik,alangkah indahnya negeri ini dan apabila figur orang muda seperti Obama pun ada disini.Seorang Afro Amerika yang dulunya dianaktirikan sekarang menjadi orang nomor satu di negara adikuasa itu.Berkaca pula bagaimana rakyat Amerika sendiri telah bisa menerima perbedaan itu.
Apakah para muda tahu berapa banyak keragaman mulai dari musik,tari,batik,songket bahkan bahasa yang ada di Indonesia? Banyak kaum muda yang tak peduli bahkan artefak negeri ini sudah banyak yang melayang ke negeri orang.Seandainya kaum muda tahu bahwa angklung itu dulu dipakai sebagai penyemangat para pejuang di masa penjajahan atau tari piring sebagai kegembiraan orang-orang tatkala panen tiba.saya prihatin mendengar banyak anak muda yang malu belajar tarian daerah,mungkin dianggap sudah ketinggalan jaman.Tapi saya cukup tergugah juga ketika mendengar Bondan Feat Fade2Black mengkolaborasikan keroncong dan rap pada lagu “Keroncong Protol”.Padahal kalau ditilik,betapa indahnya seni budaya dan adat istiadat kita.Ibarat syair lagu Koes Plus,”tanah kita tanah surga,tongkat kayu dan batu jadi tanaman”
Apapun mereka,tentulah semangat pemuda memajukan Tanah Air tercinta ini perlu dimotivasi.Tak hanya menjalankan kehidupan sebatas dirinya sendiri,mereka harusnya keluar dari kepentingan pribadi.Banyak kader muda yang muncul sebagai caleg semoga tak hanya mengotori kepentingan rakyat.Walaupun banyak dari pemuda kinipun yang tak lagi mengindahkan budaya dan etika.Berpenampilan seronok ala Barat,film dan sinetron yang mengumbar kevulgaran ( baik tutur kata dan penampilan ) sebuah generasi MTV yang tak hanya “METAL” alias MELLOW TOTAL di lagu-lagunya tapi juga banyak yang salah kaprah dalam kehidupannya.Ternyata globalisasi memang banyak melibas sisi kehidupan mereka.
Ibarat kata seorang teman saya,Indonesia tengah ditapal batas…Semoga tak demikian…
Depok,09 Nov’08

Ketika Wijayakusuma Itu Berbunga

November 18th, 2008 by viresa

Wijayakusuma itu saya tanam di pot dipekarangan rumah.Bunga ini saya dapatkan sekitar 6 tahun yang lalu dari keluarga mertua di Kudus.Setelah menunggu 6 tahun,baru bulan Juni 2008 lalu berbunga dan harus bersabar sampai tengah malam menanti bunganya mekar.Wanginya semerbak dan konon kabarnya apabila Wijayakusuma itu mekar,pemilik rumah akan mendapat peruntungan.Ya iyalah dapat rezeki,saya saja harus bersabar menunggu sampai 6 tahun baru bunganya mekar,mekarnya di tengah malam pula dan akan layu di pagi hari.

Tapi banyak kisah dibalik tanaman ini,karena bunga ini identik dengan raja-raja Jawa sehingga banyak kesan mistis yang timbul menyertainya.Padahal Wijayakusuma adalah sejenis kaktus yang bernama latin Epiphyllum Anguliger.Berbeda dengan kaktus,dedaunannya tak berduri.Dan berbeda pula dengan tanaman lain karena bunganya yang hanya beberapa jam saja mekarnya.

Alkisah ketika Raja Prabu Aji Pramosa mengejar Resi Kano yang telah membuat Raja murka dan kabur dari istana lalu bersembunyi di Cilacap.Sang Raja dari Kediri ini akhirnya bisa membunuh Resi.Tapi tiba-tiba dari tengah laut di Pantai Telur Penyu muncullah seekor naga besar yang ternyata adalah jelmaan seorang putri cantik yang bernama Dewi Wasowati.Sang Putri ayu menghampiri Aji Pramosa sembari mengucapkan terima kasih karena berkat panahnya ia bisa menjelma kembali menjadi manusia. Sebagai rasa terima kasih, putri cantik tadi menghaturkan bunga Wijayakusuma kepada sang Aji Pramosa. Sang putri mengatakan “kembang Wijayakusuma tidak mungkin bisa diperoleh dari alam biasa, barang siapa memiliki kembang itu bakal menurunkan raja-raja yang berkuasa di tanah Jawa”.

Selanjutnya ia berpesan, kelak pulau ini akan bernama Nusa Kembangan. Nusa artinya pulau dan Kembangan artinya bunga. Seiring pergantian jaman, nama Nusa Kembangan akhirnya berubah menjadi Nusakambangan. Prabu Aji Pramosa sangat girang hatinya menerima hadiah kembang itu, kemudian dengan tergesa-gesa ia mengayuh dayungnya untuk kembali menuju daratan Cilacap, tetapi karena terlalu gugup dan kurang hati-hati, kembang itu jatuh ke laut dan hilang tergulung ombak, dengan sangat menyesal sang Aji Pramosa pulang tanpa membawa kembang. Beberapa lama setelah sang Prabu berada di kerajaan, terbetik berita bahwa di pulau karang dekat Nusakambangan tumbuh sebuah pohon aneh dan ajaib, beliau pun ingin menyaksikan pohon aneh yang tidak berbuah itu dan ternyata benar bahwa pohon itu tidak lain adalah Cangkok Wijayakusuma yang ia terima dari Dewi Wasowati. Melihat pohon itu, sang Aji Pramosa teringat akan kata-kata Dewi Wasowati bahwa siapa yang memperoleh kembang Wijayakusuma akan menurunkan raja-raja di tanah Jawa.

Kisah terjadinya kembang Wijayakusuma pada jaman Prabu Aji Pramosa dari Kediri itu setelah bertahun-tahun menimbulkan kepercayaan bagi raja-raja di Surakarta dan Yogyakarta. Menurut cerita, setiap ada penobatan raja baik Susuhunan di Surakarta maupun Kesultanan di Yogyakarta mengirim utusan 40 orang ke Nusakambangan untuk memetik kembang Wijayakusuma. Sebelum melakukan tugas pemetikan, para utusan itu melakukan ziarah ke makam-makam tokoh leluhur di sekitar Nusakambangan.

Begitu juga yang dilakukan pada masa pemerintahan Susuhunan Pakubuwono XI, yaitu saat Sunan Pakubuwono XI baru “jumenengan” (dinobatkan sebagai raja). Bahkan adat leluhur ini konon sudah dilakukan jauh sebelum itu. Menurut Babad Tanah Jawi, Adipati Anom, Sunan Amangkurat II pernah mengirim utusan untuk memetik kembang Wijayakusuma, yaitu setelah ia menobatkan dirinya sebagai raja Mataram menggantikan ayahandanya.

Ritual raja-raja Jawa terhadap ‘keagungan’ bunga Wijayakusuma tak berhenti sampai disana saja,cara memetik bunga Wijayakusuma tidak dengan tangan tetapi dengan cara gaib melalui samadi. Sebelumnya para utusan raja melakukan upacara “melabuh” (sedekah laut) di tengah laut dekat pulau Karang Bandung. Sebelum dipetik, pohon itu dibalut terlebih dahulu dengan cinde sampai ke atas. Dengan berpakaian serba putih utusan itu bersamadi di bawahnya, jika memang samadinya terkabul, kembang Wijayakusuma akan mekar dan mengeluarkan bau harum. Kemudian bunga itu jatuh dengan sendirinya ke dalam kendaga yang sudah dipersiapkan. Selanjutnya kembang tersebut dibawa para utusan ke Kraton untuk dihaturkan ke Sri Susuhunan / Sri Sultan. Penyerahan itu pun dilakukan dengan upacara tertentu, konon kembang itu dibuat sebagai rujak dan disantap raja yang hendak dinobatkan, dengan demikian raja dianggap syah dan dapat mewariskan tahta kerajaan kepada anak cucu serta keturunannya.

Bagi saya Wijayakusuma sekedar bunga yang bukan untuk dikultuskan.Ditanam sebagai penghias taman dan apapun kesan mistis yang mewarnainya bagi saya adalah kisah-kisah yang patut dikenang dalam sejarah kerajaan Indonesia.Karena kita hidup tak lepas dari sejarah masa lalu.Kan saya tunggu kapan ia berbunga lagi…

Depok,09 Nov’08

Kembali ke Kudus…Wisata Rohani dan Kuliner

June 12th, 2008 by viresa
Dsc00386omah_mode Pagi itu pukul 07.15 saya menuju Kudus dengan kereta Argo Muria yang berangkat dari Gambir.Suhu dingin yang terasa di kereta,terasa kontras kala menginjak Stasiun Tawang Semarang.Udara panas terasa menampar kulit serta debu-debu perbaikan jalan ( mulai dari Terminal Terboyo sampai jalan raya Demak-Kudus yang tak selesai-selesai direhab sejak 2 tahun lalu ),membuat perjalanan yang seharusnya hanya 1 jam terhadang macet hingga hampir 2 jam lebih.
Semarang tak ubahnya Jakarta jelang bulan Juni ini kembali dilanda air pasang.Beberapa ruas jalan yang dilintasi tergenang air.Dan pemandangan mata disepanjang jalan juga disemarakkan oleh spanduk-spanduk besar kampanye para cagub Jawa Tengah.
Jelang malam di Kudus bisa dinikmati dengan keliling kota yang tak begitu luas.Alun-alun Kota Kudus sungguh meriah dengan warga yang menghabiskan malam mingguannya disana.Warung-warung tenda mulai menggelar dagangannya di depan toko-toko yang sudah tutup.Itu terlihat di hampir sepanjang ruas jalan disana,mulai dari Jl.Tanjung,jalanan di sekitar Pasar Kliwon hingga Jl.Sunan Kudus sekitar Menara/Makam Sunan Kudus juga Jl.Wahid Hasyim dan sekitarnya yang begitu meriah saat malam menjelang.Di pertokoan dekat Menara Kudus malah terlihat orang-orang dengan asyiknya menyeruput kopi sambil duduk lesehan bersantai di koridor toko.Mana ada di Jakarta suasana begini hangat dan bersahaja bisa dijumpai?? Orang-orang yang ramah,tak ruwet dengan kemacetan jalan serta obrolan akrab sederhana di warung-warung yang saya jumpai.
Mau makan yang murah meriah,hari gini?? Di Kudus-lah tempatnya.Selain Kudus terkenal dengan Soto Kudusnya ataupun Sate Kerbau,disana juga banyak ditemukan Angkringan-Nasi Kering ( kering tempe,red ) alias nasi kucing ataupun nasi teri dengan lauk bermacam-macam pilihan mulai sate ayam,ceker ayam,sate kerang,hati ampela,telur puyuh atau sekedar gorengan plus teh manis hanya Rp.8000 sudah makan kenyang,puas pula! Atau masakan khas pesisir Jawa seperti Soto Kerbau ataupun Pindang Kerbau plus nasi dan teh manis juga hanya Rp.7000.
Soto Kerbau mirip dengan Soto Kudus,berkuah bening,ada toge,daun bawang serta bawang gorengnya.Hanya bedanya Soto Kudus memakai daging ayam.Mungkin orang-orang yang kurang terbiasa memakan daging kerbau agak merasa aneh dengan tekstur daging yang lebih kasar,rasa serta baunya yang lebih menusuk.Bila mencoba Soto ataupun Pindang Kerbau bisa menambahkan acar timun dan wortel untuk mengurangi bau yang kurang sedap itu.
Atau mau coba Lentog ( sejenis tupat sayur ) yang hanya dihargai Rp.2000.Mie ayam ataupun pecel juga cuma Rp.2500.Kalau begini siapa yang ’sadar’ BBM sudah naik? Atau mau coba Es Gempol? Nama yang agak aneh di telinga saya,yang ternyata mirip Es Campur di Jakarta tapi bahannya terbuat dari tepung beras dan dibentuk bulatan sebesar telur puyuh.
Nasi Pindang Kerbau atau Pindang Ayam yang terkenal enak di Kudus adalah Nasi Pindang Mapan di Jl.Tanjung.Soto Kerbau yang terkenal maknyus adalah Soto Kerbau Pak Di di dekat Pasar Kliwon.Dan kalau ingin lesehan makanlah disekitar Pasar Kliwon.Lentog yang terkenal berada di Jl.Tanjung Karang,disana akan kita temui jejeran tempat makan lentog yang berada di tepian persawahan.Tapi harap berhati-hati,masakan disini banyak santan dan daging yang akan menaikkan kolesterol.Mungkin sesekali tak apalah,kalau keseringan wahh saya pikir-pikir lagi nih.Dsc00389omah_mode Dsc00393alun2
Jangan salah,kalau mengharap makan di tempat yang ala resto atau rumah makan.Di Kudus tak banyak tempat yang seperti itu,justru warung-warung tenda yang akan banyak terlihat.Dan jangan salah biar sekelas warung tapi makanannya maknyus punya.Kuliner khas pesisir lainnya yang juga banyak dijumpai adalah Nasi Gandul,Mangut Ikan dan Garang Asem.
Satu hal kenapa Kudus terkenal dengan kuliner dari kerbau? Alkisah sewaktu Sunan Kudus ingin mengembangkan Islam disana,Kudus ( yang berasal dari Qudus-Suci,bhs Arab ) dulunya kebanyakan warganya adalah penganut agama Hindu.Sapi sebagai hewan suci dalam agama Hindu tetap dihargai oleh Sunan,sehingga tak diperbolehkan memotong sapi di wilayah Kudus dan sebagai gantinya boleh menjagal kerbau.Sampai hari ini peraturan itu masih ditaati.Bahkan Menara Kudus yang dibangun Sunanpun bergaya Hindu.Masjid_sunan_kudus Menara_kudus
Berbicara Menara/Mesjid Sunan Kudus tak luput dari daerah Kauman yang bertembok tinggi,yang berada disekitar kompleks mesjid.Dulu mereka-orang Kauman sangat menjaga putri-putri mereka dari pergaulan diluar sana,sehingga pada acara Dandangan jelang Ramadhan,mereka baru berkesempatan keluar rumah dan mencari jodoh.Kantlong Parijoto
Selain menyinggahi Mesjid dan Makam Sunan Kudus,agak keatas menuju daerah Gunung Muria / Colo yang sejuk bisa pula menyambangi Makam Sunan Muria.Walau agak terjal menjelajahi perbukitan,mobil atau motor yang kita naiki bisa kita tinggal di parkiran bawah dan para tukang ojek yang banyak  siap mengantar dengan Rp.14.000 p.p.Disana selain berziarah bisa pula mampir membeli buah Parijoto yang kabarnya ditanam Sunan Muria.Alkisah bila sedang hamil memakan buah ini,bayi yang dikandung akan ‘cute’.Selain itu bisa pula mencicipi sejenis ubi bernama Jangklong yang konon hanya tumbuh di Gunung Muria.Bila kita melihat sekilas,buah ini mirip sekali dengan lengkuas dan rasanya agak sedikit kecut.Atau sebelum sampai ke Kudus bisa pula menyinggahi Makam Sunan Kalijaga di Demak.Ini menjadi napak tilas bagaimana perjuangan para Wali Songo menyebarkan agama Islam.
Berjalan-jalan di Kudus,mata saya sempat kaget dengan satu bangunan tua yang telah direhab menjadi Factory Outlet.Inilah satu-satunya FO di Kota Kudus,yang berada di Jl.A.Yani.Namanya Omah Mode yang baru beberapa bulan ini dibuka dan kabarnya kepunyaan kerabat PT.Djarum Kudus.Ternyata dulunya bangunan tua ini adalah tempat susu perah.Ornamen seperti lantai,jendela dan pintu terlihat masih dijaga keasliannya dan bila ingin mencoba menikmati susu perahnya bisa datang ke counternya yang dibangun di sisi belakang rumah.Tertulis disana susu perah OIB sejak tahun 1925.Sedangkan rumahnya sendiri di depan tertulis tahun 1836.Sungguh bangunan tua yang keren…coba ya bangunan-bangunan tua di daerah lain dijaga keasliannya dan dimanfaatkan seperti ini.
Menyusuri Kudus di beberapa tempat akan tercium aroma tembakau yang berasal dari pabrik-pabrik rokok,mulai pabrik kecil sampai Rumah_adat_kudus kakap sekelas PT.Djarum.Pada sisi lain terhampar kebun tebu yang luas,karena disana juga terdapat pabrik gula.Dan tak heran bila pagi datang ramailah para buruh-buruh mengayuh sepeda menuju pabrik.Terkenalnya Kudus sebagai kota penghasil rokok alias Kota Kretek,bila berminat bisa mampir melihat sejarah tentang rokok di Kudus mulai dari jaman dulu hingga hari ini di Museum Rokok.Dan disana kita bisa pula melihat Rumah Adat Kudus dengan ukiran cantiknya.
Dari kota kecil ini tak hanya terkenal dengan rokok ataupun jenangnya.Siapa nyana kalau di kota ini terdapat pabrik pencetak kertas uang berbagai negara yang telah dibukukan MURI.Kota yang tak macet walau agak panas tapi tenang untuk menentramkan bathin…saya akan kembali lagi…( lha iyalah,kampung misua geto,hehe…)
Depok,08Juni08

Dari Open HOuse Istana Bogor

June 12th, 2008 by viresa
Dsc00339ib Bogor kala itu di tanggal 27 Mei 2008 menjelang pukul 10.00 pagi.Antrian panjang yang mendaftar serta rombongan yang ruah antusias di depan Gedung DPRD Bogor untuk bisa melihat dari dekat Istana Bogor yang diwaktu hari-hari biasa tak semua orang bisa masuk kedalamnya,kecuali dengan izin khusus. Cuaca panas serta kenaikan BBM tampaknya tak menyurutkan langkah orang-orang.Open House yang digelar dari tanggal 19-29 Mei itu diadakan dalam rangka Hari Jadi Bogor ke 526 tahun.Selentingan rumor beredar untuk masa mendatang Istana Bogor akan ‘benar-benar’ terbuka untuk umum.
Setelah menunggu berselang 1 jam lebih,akhirnya rombongan dibentuk berbaris teratur berjalan dari Gedung DPRD menuju Istana Bogor dengan penjagaan lumayan ketat dikerahkan,mulai dari Pramuka,Paskibra dan tentunya para penjaga istana. Sebenarnya ada petugas yang memandu dan menjelaskan secara rinci keadaan Istana Bogor tapi karena hiruk pikuk rombongan,suara guide seakan tenggelam.Yang sempat saya tangkap lamat-lamat,guide menjelaskan ruangan-ruangan didalam Istana,lampu-lampu yang berasal dari Cheko,perabotan yang dari jadul tidak pernah diganti ( antik banget ! ) serta lukisan-lukisan indah yang kebanyakan karya Basuki Abdullah. Yang mencuri perhatian tentunya patung-patung perempuan telanjang yang bertebaran disekitar Istana juga barisan anthurium yang berjejer rapi.Pada sisi luar taman ada patung perempuan telanjang yang dinamai Si Denok.
Pada bagian lain dipamerkan pula foto-foto Istana Bogor di masa Hindia Belanda yang dulunya ternyata adalah tempat tinggal Gubernur Jenderal.Di foto tersebut diperlihatkan bagaimana istri sang Gubernur Jenderal minum kopi di sore hari,duduk santai di beranda Istana.Di foto lainnya ditampilkan kunjungan dan jamuan makan bersama Sri Sultan HB IX di masa penjajahan Belanda. Jendela-jendela besar yang terbuka,ciri khas bangunan tempo dulu membuat suasana dalam Istana terasa sejuk dan desiran angin yang terdengar membuat kita betah berlama-lama didalamnya.
Dsc00345ib Dsc00346ib Dsc00347ib
Memang inilah ‘Istana’ di tengah Kebun Raya yang luas,santai dan tenang sambil mengamati rusa-rusa yang lincah bercengkrama.
Depok,07 Juni’08

Journey of Tanjung Lesung…

May 22nd, 2008 by viresa
Menyusuri jelang malam di Anyer saat terang bulan sungguh romantis sekali…Dsc00278_1
Perjalanan gank gw kali ini adalah Tanjung Lesung.Sebenarnya ide ini datang dari gw yang penasaran membaca artikel di internet dan tabloid yang begitu mem’banggakan’ Tanjung Lesung.
Akhirnya ide gw disambut baik teman-teman se-gank.Mumpung bensin belum naik nihh…
Perjalanan dimulai dari Jakarta sebelum maghrib tiba di Sabtu sore tanggal 17 Mei 2008.Jalanan lancar dari Jakarta menuju Anyer,walau beberapa ruas tol sedang diperbaiki sehingga ada penyempitan jalan.Sepertinya weekend kali ini tak begitu membuat antusiasme orang-orang.Mungkin sejak ombak besar dan gempa yang mendera Anyer dan Carita beberapa waktu lalu atau memang lagi ‘waktu resesi’ kantong mulai kering hingga Pantai Barat ini tak seramai dulu.
Menempuh perjalanan sampai Anyer,setelah sempat mengganjal perut di Cilegon,kitapun semua menginap semalam di Anyer.Walau agak malam-sekitar jam 21.30,kita sempatkan menikmati pantai Anyer yang sepi disaat terang bulan.Beda banget ketika gw kesini beberapa waktu lalu,pantai jauh lebih sepi kali ini.Ternyata dampak kenaikan BBM benar-benar melibas segala sektor.
Keesokan harinya,kita memulai perjalanan ke Tanjung Lesung pada pk.07.30 pagi.Ternyata benar-benar perjalanan yang jauh dan melelahkan.Gw pikir Tanjung Lesung tak seberapa jauh dari Carita ataupun Labuan.Gila,ini berasa menjelajah ujung pulau Jawa !! Yang ternyata benar-benar disana tempatnya sepi,tak ada ombak dan pembangunan yang dilakukan pihak resort Tanjung Lesung juga belum optimal.Sebenarnya potensi wisata disana cukup menjanjikan.Keindahan alam di Selat Sunda,batu-batu karangnya serta pasir pantai yang putih cukup menyejukkan mata.Tapi karena mahalnya paket tour ( ke Ujung Kulon,melihat terumbu karang dll ) dan sarana rekreasi lainnya yang dikelola swasta membuat makin sepinya peminat lokal.
Lokasi lain yang sebenarnya indah adalah Pulau Umang.Tapi masih melanjutkan 1 jam perjalanan lagi dari Tanjung Lesung arah Sumur dan bisa juga melanjutkan ke Ujung Kulon dan Pulau Peucang.Entahlah,apa gw akan kembali lagi kesana atau tidak…secara mengingat tempatnya yang jauh banget dan jalanan dari Anyer,Carita sampai Tj.Lesung banyak yang rusak,sungguh mengganggu kenyamanan selama perjalanan.
Akhir perjalanan kali ini dituntaskan di Karang Bolong,menikmati pantainya jelang sore dan beranjak menuju Cilegon membeli buah tangan-Sate Bandeng yang lumayan euankk!! Dan satu style kita di perjalanan kali ini mengikuti trend batik yang lagi pamor,hehee…Catatan dari gw ;Semoga saja trend batik  ini bertahan lama dan bisa menambah cinta tanah air,melestarikan budaya bangsa-tidak cuma diakui oleh negara lain serta membangkitkan semangat di satu abad Hari Kebangkitan Nasional.merdekaaa !!
Depok,20 Mei 2008

STOP ANARKISME….!!!

May 2nd, 2008 by viresa
Saya heran makin hari makin parah tindakan anarkis di Indonesia.Emosi dan marah karena hal sepele berlanjut menjadi tindakan yang menyeramkan.Katanya kita sudah ‘reformasi’ tapi nyatanya reformasi apa yang telah didapat bangsa ini? Bebas mengungkapkan segala sesuatu hal sampai tindak  penganiayaan? Reformasi yang telah salah kaprah…!
Hampir setiap hari tindakan pengrusakan,premanisme,tawuran dan rusuh berseliweran di layar kaca.Tak hanya aparat versus rakyat kecil tapi antar pendukung sepak bola,penonton konser,para pelajar,mahasiswa,premanisme di sekolah dan di kampus,ricuh pilkada sampai orang-orang yang berlabel ‘agama’ ikut-ikutan tersulut garang.
Apa tak ada jalan keluar yang mengedepankan musyawarah? Bangsa ini telah lupa akan nilai-nilai luhurnya.Orang-orang yang katanya ‘hebat’ semena-mena menggusur kaum kecil dengan cara-cara yang tak pantas.Apakah tak ada jalan lain yang lebih manusiawi? Lalu diikuti pula oleh orang-orang yang katanya mengusung nilai Islami yang merazia tempat-tempat maksiat dan yang terbaru rusuh yang tak suka pada kelompok Ahmadiyah.Merusak,melempar dan membakar bukanlah jalan keluar terbaik.PANTAS SAJA CAP ISLAM itu TERORIS,KEJAM dan TAK MANUSIAWI.Karena ulah segelintir orang-orang yang bercap’AGAMA’ telah merusak nilai-nilai ISLAM itu sendiri.Apa yang ingin dibangun tentang Islam yang cinta damai tak tergambar dan ternoda oleh ulah mereka yang anarkis.
Jangankan rakyat diluar sana yang adu jotos,di ruang sidang MPR/DPR saja tawuran.Bagaimana wakil rakyat akan memberi contoh yang baik kepada rakyatnya? Moral dan mentalnya saja masih dipertanyakan.
Kepala sama hitam tapi isi hati dan pikiran boleh beda,bagaimana menyatukan dan mencari titik temu yang baik tampaknya sangat susah di bumi Indonesia ini.Orang-orang tampaknya ingin serba instan dan malas duduk untuk seiya sekata.Gejala apa yang terjadi pada bangsaku?
Depok,20 april’08

FENOMENA MUSIK vs FILM saat ini…masih layak dinikmati?

May 2nd, 2008 by viresa
Akhir-akhir ini telinga saya selalu saja disuguhkan lagu-lagu melankolis ala anak band yang bak jamur di musim hujan,bertebaran di ranah hiburan negeri ini.Gokil,ada yang bisa menghitung berapa banyak band baru yang mengisi per’musik’an saat ini? Mulai dari Repvblik,Matta,Vagetoz,KUnci,Julliete,Merpati,Keyla,ST12,DMaasiv,Seventeen,Zorro,Angkasa dan lain sebagainya…tak terhitung!! Dan ‘tongkrongan’ mereka yang ganas dan macho jadi ‘lembek’ dan mellow banget dengan lagu-lagu bertema cinta yang menyayat hati dan tema perselingkuhan yang lagi trendi.Seperti Cinta Ini Membunuhku,Selalu Mengalah,Jangan Pernah Selingkuh atau Tak Selamanya Selingkuh Itu Indah.
Entah siapa yang memulai,sehingga fenomena band-band baru ini menyeruak ruang dengar kita.Dan dengan mengusung lagu-lagu standard,yang bagi saya lagu mereka biasa-biasa saja.Tak ada kelebihan dalam tema dan sentuhan baru.Bedanya mereka rata-rata lumayanlah dari segi musikalitas,tidak seperti Kangen Band yang sempat dicemooh orang karena permainan musik mereka yang masih minim.
Apa bedanya lagu-lagu band baru itu dengan pop cengeng 80an? Sebenarnya tidak ada bedanya,cuma kemasannya saja yang berubah.Dan apa arti pop cengeng itu sendiri? Menghiba,merana,tersiksa,seakan tak ada semangat hidup dan terpuruk.Dan selama musik itu terus terdengar dari masa lalu ke masa kini akan tetap mengusung tema cinta bahkan cengeng yang tak ada matinya.Tak peduli itu rock,jazz bahkan dangdut tetap tak jauh dari CINTA. Pop cengeng hanya julukan untuk membedakan dari aliran lain yang katanya lebih kreatif (POP Kreatif) di era 80an.
Dan apa bedanya seorang Yovie,Melly,Andra,Dhani,Ariel Peterpan yang juga mengusung tema yang sama? Mungkin karena mereka lebih kreatif dan beda…Selama masyarakat menerima dan terhibur,pop cengeng atau apapun itu telah jadi bagian musik negeri ini.Terbukti lagu-lagu band baru itu menjadi hits dan orang-orang suka mendendangkannya di kantor ataupun di jalanan.
Dan musik telah menjadi bagian hidup bagi sebagian orang.Seperti juga saya yang merasa sepi bila sehari tak mendengarkan musik.Musik sebagai relaksasi,pelepas stress,penyeimbang jiwa,balancing otak kiri-kanan dan menghidupkan suasana.Dan keadaan metropolitan yang semakin semrawut ini,musik jadi bagian yang menghibur.Kapan pertama kali musik itu ada ya?
Dan bagian lain penghiburan adalah FILM.Tapi koq sekarang trend film itu kalau tak bertema horor/mistis pastinya komedi seks.Dimulai dari Quickie Express berlanjut ke XL,ML,Namaku Dick sampai Tali Pocong Perawan yang menggabungkan seks dan horor.Kevulgaran di film Indonesia sepertinya makin menggila.Tema-tema dan adegannyapun membuat panas dingin penonton.Tak tabu lagi membahas seks,alih-alih sang produser berkilah ‘ini film pendidikan seks’ agar remaja tak salah kaprah tentang seks.Apa iya,pak??? Kalau alur cerita dan penggarapannya masih lemah mutunya,miskin ide dan misi yang tak jelas,jangan berharap banyak.Film genre komedi seks jadi hanya sekedar jual wajah dan pamer keindahan wanita.Ujung-ujungnya tetap eksploitasi wanita.Apa produser tidak memikirkan kalau film itu bakal ditonton oleh yang belum cukup umur? Mengingat tak cuma adegannya saja yang seronok tapi juga dialog-dialognya yang vulgar.Dan bagaimana dengan kabarnya LSF-Lembaga Sensor Film yang akan dibubarkan? Sekarang adanya LSF,film-film yang bermunculan seperti itu.Apa jadinya tanpa ada LSF…ehmmm,konon ini permintaan para insan film yang tak ingin gerak mereka dibatasi oleh guntingan sensor.Entahlah…no comment !!
Musik dan film adalah hiburan pengisi kepenatan.Kalau tema cengeng ala anak band,film horor serta komedi seks jadi pilihan ya terserah saja.Ini kan soal selera dan apresiasi mereka.Tapi mbok ya ada perubahanlah,secara ini tahun 2008 getoo lhohh.Koq reformasi di bidang musik dan film kadang makin tidak jelas arahnya…??!
Depok,27 April’08

WAJAH PEREMPUAN

May 2nd, 2008 by viresa
Tgl 8 Maret lalu diperingati sebagai Hari Perempuan Sedunia dan 21 April kemarin kembali kita memperingati Hari Kartini.Tak sekedar seremonial berkebaya dan memakai konde ataupun memakai pakaian daerah,tapi lebih memaknai bagaimana nasib dan wajah perempuan Indonesia kini?
Dinukil dari buku berjudul Berbagi Pengalaman,Merajut Perlawanan : Tuturan Survivor,empat wanita Leni Dwiyanti,Wiwik Sri Widayati,Zulaikha dan Sylvia Wijaya berbagi penuturan keadaan dirinya yang teraniaya,ditindas,ditipu,dibodohi oleh orang yang mereka cintai.Ternyata KDRT itu masih saja menghantui kehidupan perempuan Indonesia.
Bagaimanapun inilah wajah-wajah perempuan Indonesia yang masih terbelenggu dan terpasung dalam tembok derita.Pernikahan yang dianggap sakral berubah menjadi ‘neraka’ kala yang dicintai berubah wujud menjadi ‘monster’ yang kejam.Kekerasan dalam rumah tangga tak hanya dalam bentuk fisik tapi berupa mental yang teraniaya,disakiti dan menderita sewaktu suami berselingkuh bahkan berpoligami.
KDRT-Kekerasan Dalam Rumah Tangga yang kian hari terus meningkat dan pembelengguan perempuan dalam karir adalah suatu bentuk ketidaksetaraan gender.Kita lihat di belahan barat sana,apakah ada pembatasan karir bagi perempuan? HRD di Indonesia selalu memberi pembatasan syarat-syarat bagi pelamar ; belum menikah serta pembatasan umur.
Belum kemiskinan yang mendera sehingga perempuan Indonesia tak bisa melanjutkan pendidikan dan berjuang dengan kehidupan mereka yang memprihatinkan.Terdampar sebagai TKW bahkan berkubang dosa di tempat-tempat maksiat.Belum pula nasib mengenaskan mereka sebagai TKW yang mengalami penganiayaan,pelecehan dan korban perdagangan wanita.
Dan goyangan heboh  di jagad dangdut adalah bentuk eksplorasi dan eksploitasi perempuan yang tak mengindahkan budaya Timur.Goyangan dangdut serta penampilan perempuan Indonesia makin tergerus oleh jaman.Tampilan seronok,cara berpakaian,seks bebas dan pornografi pada wanita makin tak terelakkan.Bagaimana perempuan tak jadi obyek pelecehan kalau mereka sendiri tak bisa menjaga diri mereka?
Disaat tayangan iklan kosmetika di televisi yang selalu menyuguhkan perempuan cantik dan putih ( walau bertampang bule ),yang tak menggambarkan perempuan Indonesia sesungguhnya.Karena kecenderungan kulit wanita Indonesia yang kuning langsat bahkan sawo matang di’jejali’ oleh beragam produk pemutih dan kecantikan yang membuat kulit terlihat lebih putih.
Banyak pula perempuan yang hanya jadi korban dan terus teraniaya.Mereka yang tak berani melawan dan mengadu pada lembaga berwenang.Atau contohnya para wanita penderita HIV/Aids yang ‘terpaksa’ jadi ODHA-Orang Dengan Hiv/Aids karena tercemari oleh suami mereka sendiri.
Perempuan yang dalam tembok derita masih ‘malu’ keluar dari penderitaan mereka,bangkitlah !
Kita memang tercipta dari tulang rusuk lelaki tapi bukan untuk diinjak,disakiti dan disia-siakan.Dan bukan pula karena ‘atas nama cinta’ semua dihalalkan dan berpasrah diri untuk ditindas.Kita tetap pada kodrat perempuan sesungguhnya yang tak hanya berkarir di luar rumah tapi juga sebagai pendamping suami.Namun bukan pula atas nama agama,sebuah poligami menjadi hal yang dilumrahkan.
Lamat-lamat tergiang lagu Wonder Woman-Mulan Jameela yang sangat mewakili jeritan para perempuan yang tersakiti…
Depok,27 April’08

Mesjid Kubah Emas

May 2nd, 2008 by viresa

Mesjid4 Mesjid3 Mesjid2 Mesjid1 Dlmmesjid2 Dlmmesjid Dlmmesjid1